Propolis Trigona Mengatasi Kanker

Propolis Trigona Mengatasi Kanker

Propolis adalah resin yang dikumpulkan oleh lebah dari berbagai tumbuhan, yang bercampur dengan saliva dan berbagai enzim sehingga menghasilkan resin baru yang berbeda. Propolis mempunyai aktivitas antibakteri, antikapang, antivirus dan aktivitas biologis lain seperti antiinflamasi, anestesi lokal, hepatoprotektor, antitumor, dan imunostimulan (Bankova, 2007; Fearnley, 2005; Lotfy, 2006). Daya antimikroba propolis telah dipergunakan oleh bangsa Yunani dan Romawi sejak berabad-abad yang lalu. Sifat unik propolis menarik perhatian para peneliti sejak akhir tahun 1960-an. Selama 40 tahun terakhir, telah dipublikasikan mengenai komposisi kimia, aktivitas biologis, farmakologis propolis dan terapi penggunaannya (Khismatullina, 2005). Bahan aktif dalam propolis, seperti senyawa flavonoid dan capeic acid phenethyl ester, telah banyak dimanfaatkan untuk kesehatan terutama sebagai bahan antikanker. Saccharomyces cerevisiae merupakan sel eukariot yang dapat dijadikan model pengujian aktivitas antikanker suatu bahan (de Castro et al., 2011).

Propolis diperoleh dengan cara mengekstrak sarang lebah, jenis lebah yang bersarang di lubang bambu dan dicelah celah rumah adalah Trigona sp. Lebah madu ini menghasilkan jumlah propolis lebih banyak. Propolis disinyalir dapat dimanfaatkan sebagai antikanker.  Hasil uji awal propolis Trigona spp sebagai antikanker telah dilakukan terhadap sel Murine leukemia P-388 dengan nilai IC50 18,1 μg.mL-1. Hasil ini menunjukkan bahwa propolis Trigona sp. mempunyai potensi untuk digunakan sebagai bahan antikanker. Peran propolis di dalam terapi keganasan terkait dengan kemampuannya dalam aktivitas antiproliferasi dan menginduksi apoptosis. Pada berbagai penelitian in vitro propolis menunjukkan aktivitas anti kanker pada berbagai jenis sel kanker, meliputi : kanker laring, kanker paru, kanker pankreas, kanker thyroid, kanker kolorektal, kanker payudara, kanker prostat dan glioma. Mekanisme apoptosis terjadi melalui dua jalur utama, jalur ekstrinsik dan intrinsik. Apoptosis jalur intrinsik diregulasi oleh sekelompok protein. Protein Bcl2 adalah protein yang bersifat anti apoptosis, bekerja dalam mitokondria, berperan pada fase inisiasi apoptosis jalur intrinsik. Penurunan aktivitas Bcl2 akan menyebabkan peningkatan apoptosis dan sebaliknya. Apoptosis merupakan mekanisme untuk mengontrol proliferasi sel.

Proses ekstraksi propolis secara umum dilakukan dengan teknik maserasi menggunakan pelarut organik. Penelitian yang dilakukan oleh Park dan Ikegaki (1998) diperoleh bahwa etanol 70% mampu mengekstrak sebagian besar flavonoid jenis pinokembrin dan sakuranetin. Penggunaan etanol 70% lebih baik dibandingkan dengan etanol absolut (95%) karena perolehan ekstrak flavonoid lebih banyak. Ekstraksi propolis dengan etanol 70% menghasilkan propolis dengan aktivitas antioksidan terbaik (Park dan Ikegaki, 1998).  Proses ekstraksi propolis menggunakan pelarut etanol 70% dan pemanasan gelombang mikro selama 30 menit merupakan cara yang sangat cepat dalam menghasilkan asam fenolat dan flavonoid. Flavonoid merupakan senyawa fenol yang terdapat dalam propolis dan kadarnya berhubungan dengan warna sarang lebah. Propolis yang berwarna lebih gelap mengandung flavonoid lebih banyak, sehingga hasilnya yang lebih banyak dibandingkan dengan propolis berwarna lebih muda (Woo, 2004). Flavonoid ini merupakan bahan aktif pada propolis. Warna merupakan penanda tinggi rendahnya kandungan bahan aktif suatu objek (Suparno et al., 2007) atau kandungan bahan kimia suatu bahan (Suparno et al., 2009). Propolis yang dihasilkan dari ekstraksi memiliki warna coklat sampai coklat kehitaman. Propolis ini larut sempurna pada propilen glikol dan etanol 70% tapi tidak larut dalam air. Total kadar flavonoid yang terkandung dalam propolis hasil ekstraksi adalah sebesar 12,67%. Selain mengandung flavonoid propolis juga mengandung senyawa asam organic yang bersifat antioksidan yang dapat mereduksi radikal bebas, zat aktif tersebut diantaranya asam firulat (29,795%), techtochrysin (14,153%), pinokembrin (7,726%), asam kumarat (2,330%), galangin (1,765%), pinobanskin (0,982%), asam salisilat (0,539%), kuersetin (0,373%), fisetin (0,188%), protocathechic acid (0,118%), chrysin (0,080%), asam kafeat (0,0620 %) dan epigenin (0,018%).  Keberadaaan antioksidan adalah hal penting untuk formulasi obat. Aktivitas antioksidan ini dipengaruhi oleh keberedaan flavonoid dalam propolis, semakin kecil nilai IC50 semakin besar kemampuannya sebagai bahan antioksidan. Nilai IC50 antioksidan propolis adalah 75,677 μg.mL-1. Besar kecilnya nilai IC50 disebabkan oleh asal propolis dan waktu pengambilan sarang lebah.

Pengujian kemampuan propolis dalam menghambat pertumbuhan sel eukariot atau induksi apoptosis dilakukan menggunakan sel model S. cerevisiae. Pola induksi terhadap S. cerevisiae adalah dengan menghambat pembentukan enzim pembawa gen Pdr5p (Lotti et al., 2011). Pada konsentrasi 50 μg.mL-1 kemampuan menginduksi apoptosis sel S. cerevisiae sebesar 70,323% atau IC50 sebesar 6,015 μg.mL-1. Hasil menunjukkan lebih besar dibandingkan dengan Lotti (2011) dari contoh yang diujikan terdapat propolis asal Brazil yang mempunyai IC50 sekitar 50-100 μg.mL-1. Hal ini menunjukkan bahwa propolis asal Pandeglang cukup potensial sebagai bahan untuk antikanker.

IMG_1642

Pengujian aktivitas propolis dalam mematikan sel kanker payudara secara in-vitro dilakukan terhadap sel kanker MCF ( Michigan Cancer Foundation)-7 menghasilkan nilai IC50 sebesar 233 μg.mL-1. Hasil penelitian Syamsuddin et al. (2011) menemukan bahwa nilai IC50 ekstrak etilasetat propolis asal Grinsing, Jawa Tengah lebih aktif dibandingkan dengan ekstrak butanol yaitu 200 μg.mL-1 dibanding dengan 47.45 μg.mL-1. Makin kecil nilai IC50 makin aktif propolis sebagai agen antiproliferasi sel kanker. Pengujian aktivitas propolis dalam menyembuhkan kanker terlihat bahwa pada konsentrasi propolis 233 ug.mL-1 dapat menyembuhkan jaringan rusak akibat tumor. Proses penyembuhan ditandai dengan adanya perbaikan sel dan jaringan di sekitar jaringan yang rusak dengan terjadinya reeptilasi, folikel rambut dan penghambatan proses angiogenesis. penyembuhan luka akibat tumor dapat terjadi karena pemberian propolis. Sedangkan menurut Sun et al. (2012) bahwa komponen krisin yang ada dalam propolis dapat mengecilkan volume tumor yang terjadi pada jaringan mamae mencit yang diinduksi dengan DMBA. Adanya senyawa asam organik, polifenol dan flavonoid dalam propolis berperan menghambat proliferasi sel kanker.. Hal ini karena flavonoid maupun asam kafeat mampu menghambat protein kinase yang digunakan untuk proliferasi sel sehingga terjadi penghambatan proses pembentukan sel yang berakibat terjadinya apoptosis (Madeo et al., 2004). Selain flavonoid propolis juga mengandung senyawa artepilin C dan fenetil kafeat (CAPE) yang juga berfungsi sebagai antikanker.

Propolis memiliki nilai LC50 adalah konsentrasi yang menyebabkan kematian sel kanker sebesar 50%. Unsur-unsur dalam propolis yang menghambat pertumbuhan dan menghancurkan sel-sel kanker adalah quercetin (antioksidan alami), asam caffeic, dan clerodane diterpendoid. Clerodane diterpendoid merupakan zat yang mampu menghambat tumbuhnya sel tumor, sedang asam caffeic berguna mempromosikan kematian sel kanker payudara, melanoma, kolon, dan kanker ginjal. Agar efek penghambatan propolis lebih efektif sebaiknya propolis dibuat dalam bentuk nanopartikel. Hal ini disebabkan oleh karena ukuran partikel propolis yang sangat kecil sehingga bahan aktif yang masih ada dalam nanopropolis dapat masuk kedalam jaringan dengan mudah. Propolis merupakan salah satu obat alternatif yang dapat digunakan sebagai obat kanker karena semakin banyak korban penyakit ganas ini setiap tahunnya.

 

Kontributor : Amel Daniela

REFERENSI

Bankova V. 2007. Propolis of Stingless Bee: A Promising Source of Biologically Active Compounds. Pharmacog Rev. 1: 88-92.

de Castro PA, Savoldi M, Bonattio D, Barros MH, Goldman MHS, Berretta AA, Goldman GH. 2011. Molecular Characterization of Propolis Induced Cell Death in Saccharo-myces cerevisiae. Eucariotic Cell. 10 (3):398-411.

Fearnley J. 2005. Bee Propolis: Natural Healing from the Hive. London: Souvenir Press Ltd.

Khismatullina N. 2005. Apitherapy : Guidelines for more effective use. Rusia: Mobile Ltd.

Lotfy M. 2006. Biological Activity of Bee Propolis in Health and Disease. Asian Pac J Cancer Prev. 7:22-31.

Lotti C, de Castro GMM, de Sá LFR, da Silva BAFS, Tessis AC, Piccinelli AL , Rastrelli L, Pereira AF. 2011. Inhibiton of Saccharomyces cerevisiae Pdr5p by a natural com-pound extracted from Brazillian Red Propolis. J Pharma Braz. 21(5): 901-908.

Madeo F, Herker E, Wissing S, Jungwirth H, Eisenber T, Frohlich KU. 2004. Apoptosis in yeast. DOI 10.1016/j.mib.2004.10.012. Current Opinion Microbiol. 7:655–660.

Park YK dan Ikegaki M. 1998. Preparation of Water and Ethanolic of Propolis and Evaluation of the Preparations. Biosci Biotech Biochem. 62 (11): 2230-2232.

Suparno O, Covington AD, dan Evans CS. 2007. Application of diphenols for dyeing. J Soc Leather Technol Chem. 93:139-141.

Suparno O, Kartika IA, dan Muslich. 2009. Chamois leather tanning using rubber seed oil. J Soc Leather Technol Chem. 93:158-161.

 

Woo KS. 2004. Use of bee venom and propolis for apitherapy in Korea. Di dalam: Camaya EN, Cervancia C. (eds.). Proceeding of the 7th Asian Apicultural Association Conference and 10th BEENET Symposium and Technofora; Los Banos, Univ. of the Philippines. 23-27 Feb 2004. Laguna: UPLB-BP, College, Laguna (Philippines). hlm 311-315.

Potensi Propolis Lebah Trigona Spp. Sebagai Produk Antiinflamasi

Potensi Propolis Lebah Trigona Spp. Sebagai Produk Antiinflamasi

Trigona spp. merupakan jenis lebah madu yang tidak menyengat (stingless bee). Lebah Trigona ditemukan di daerah tropis dan sub tropis, seperti Australia, Afrika, Asia Tenggara, serta sebagian Meksiko dan Brazil. Lebah Trigona merupakan salah satu serangga yang hidup berkelompok dan membentuk koloni. Trigona memiliki pertahanan dengan cara menggigit musuhnya atau membakar kulit musuhnya dengan larutan basa. Organ vital (mata, hidung, dan telinga) musuh akan dikelilingi oleh lebah lain dalam satu koloninya. Lebah ini juga dilengkapi sistem kekebalan untuk menyerang serangga lainnya (Free, 1982). Lebah Trigona dalam bahasa daerah dinamakan klancenglenceng (Jawa), atau teuweul (Sunda) (Perum Perhutani, 1986).

Lebah Trigona hanya menghasilkan madu kurang lebih satu kilogram setiap tahunnya, sementara itu lebah madu jenis lainnya dapat menghasilkan sampai 75 kg madu per tahun. Lebah Trigona menghasilkan sedikit madu yang sulit diekstraksi, akan tetapi propolis yang dihasilkannya lebih banyak daripada jenis lebah lokal yang lain (Singh, 1962). Lebah Trigona berpotensi menghasilkan propolis jauh lebih banyak dibanding lebah lainnya karena propolis merupakan pertahanan utama yang dimiliki oleh lebah Trigona. Potensi lebah Trigona dalam menghasilkan propolis jauh lebih tinggi dibanding lebah lainnya dan mengingat bahwa harga propolis sangat mahal di pasaran, hal ini dapat menjadi peluang bagi masyarakat untuk dapat membudidayakan lebah Trigona (Djajasaputra, 2010).

Propolis adalah nama generik dari resin sarang lebah madu. Propolis berbentuk lengket seperti lem sehingga disebuAt bee glue. Propolis dikumpulkan lebah dari berbagai tumbuhan yang bercampur dengan saliva dan berbagai enzim lebah serta digunakan untuk membangun sarang. Sumber utama propolis adalah kuncup bunga (Bankova et al., 2000). Propolis digunakan oleh lebah untuk melapisi dinding bagian dalam sarangnya atau lubang-lubang tempat tinggalnya. Warna dan komposisi propolis berbeda-beda, mulai dari transparan, kuning, sampai coklat tua. Hal ini disebabkan oleh sumber tumbuhannya yang berbeda-beda (Woo, 2004).

Komponen utama dari propolis adalah flavonoid dan asam fenolat, termasuk CAPE yang kandungannya mencapai 50% dari seluruh komponen yang ada dalam propolis (Sabir, 2005). Kandungan dari propolis sebagian besar terdiri dari: resin (40-55%), lilin lebah dan asam lemak (20-35%), minyak aromatik (sekitar 10%), serbuk sari (sekitar 5%), dan komponen lain seperti mineral dan vitamin. Selain itu, di dalam propolis banyak pula terkandung berbagai senyawa kimia, antara lain asam amino, asam alifatik dan esternya, asam aromatic dan esternya, alkohol, aldehida, khalkon, dihidrokhalkon, flavon, flavanon, hidrokarbon, keton, dan terpenoid (Ramos dan Miranda, 2007). Komponen tersebut kaya akan vitamin B1, B2, B6, C, dan E serta elemen mineral, seperti Mg, Ca, I, K, Na, Cu, Zn, Mn, dan Fe. Propolis juga mengandung asam lemak dan enzim seperti succinic dehydrogenese, lukosa-6-fosfatae, adenosine trifosfat, dan asam fosfatise (Rajoo et al., 2014)

Propolis banyak dimanfaatkan dalam bidang pencegahan dan pengobatan penyakit serta industri makanan (Suranto, 2010). Propolis diketahui mempunyai khasiat aktivitas antibakteri, antifungi, antivirus, dan anti aktivitas biologi lain seperti anti inflamasi, anestesi lokal, hepatoprotektif, antitumor, dan imunostimulasi (Bankova et al., 2000).  Khasiat propolis yaitu dapat mengurangi pembengkakan, mengurangi nyeri penyembuhan luka (Siregar et al., 2011). Berdasarkan khasiat-khasiat yang dimilikinya, maka propolis banyak dimanfaatkan sebagai obat-obatan. Propolis dapat digunakan untuk melawan bakteri penyebab radang tenggorokan, jamur penyebab infeksi kulit, virus penyebab flu, dan dapat pula digunakan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh secara alami karena adanya bioflavonoid yang dapat membantu meningkatkan produksi serta aktivitas sel-sel imun (Bogdanov, 2017). Sediaan propolis telah digunakan untuk penyembuhan luka, regenerasi jaringan, luka bakar dan sakit gigi karena efek anestetik lokalnya lima kali lebih efektif daripada kokain (BPOM RI, 2006).

Trigona Crop

Inflamasi merupakan respon biologis kompleks jaringan vaskular yang berbahaya patogen, sel yang rusak, iritasi, dan radikal bebas. Inflamasi terjadi akibat dari reaksi tubuh terhadap invasi mikroorganisme patogen atau terhadap trauma karena luka, terbakar, atau bahan kimia. Pada bagian yang mengalami peradangan akan muncul tanda-tanda seperti: (1) Rubor atau kemerahan, (2) Tumor atau pembengkakan, (3) Dolor atau nyeri, (4) Kalor atau panas dan (5) Functio laesa atau hilangnya fungsi (Putri, 2014).

Propolis memiliki aktivitas anti inflamasi yang dapat meningkatkan sistem imun tubuh serta bermanfaat bagi kesehatan gigi dan mulut. Propolis memiliki khasiat sebagai anti inflamasi karena di dalam propolis terkandung CAPE (Caffeic Acid Phenetyl Ester). CAPE adalah senyawa kimia dalam propolis yang memiliki aktivitas sebagai penghambat peradangan (antiinflamasi), antikanker, imonomodulator, dan antioksidan karena CAPE mampu menghambat produksi reactive oxygen species (ROS). Selain itu, CAPE juga dapat digunakan sebagai irigasi saluran akar, pulp capping direct dan indirect, sebagai media penyimpanan gigi yang mengalami avulse, dan mengobati ulserasi pada rongga mulut (Mahmoud, 2006; Ardo, 2005).

CAPE berperan sebagai antiinflamasi dengan cara menekan aktivitas sel T. CAPE mampu menginhibisi Nuclear Transcription Factor Kappa B (NF-kB) dan stimulant IL-2 yang memacu poliferasi kerja dari sel T itu sendiri (Sabir, 2005). Mekanisme CAPE dalam perannya sebagai antiinflamasi adalah dengan menghalangi lipooksigenase dan siklooksigenase. Lipooksigenase merupakan enzim utama neutrofil yang nantinya akan menghasilkan senyawa leukotrin, sedangkan siklooksigenase menghasilkan prostaglandin yang akan menjadi mediator dalam reaksi radang. Adanya hambatan tersebut akan berpengaruh pada produksi leukotrin. Penurunan produksi leukotrin akan mempengaruhi aktivitas fagositosi neutrofil sehingga akan menekan proses inflamasi. Terhambatnya jalur lipooksigenase dan siklooksigenase oleh CAPE akan mengurangi terjadinya vasodilatasi pembuluh darah dan aliran darah akan berkurang sehingga migrasi leukosit (PMN) ke daerah radang juga menurun (Sabir, 2005; Bankova, 2009).

Beberapa penelitian lainnya menunjukkan bahwa mekanisme propolis sebagai antiinflamasi adalah dengan menginhibisi enzim LOX dan COX selama proses inflamasi. COX di inhibisi oleh flavonoid yang menekan prostaglandin endoperoxide synthase dalam konsentrasi tinggi yang bergantung pada sifat hidrofilik dan struktur, sedangkan LOX diinhibisi oleh komponen querecetin propolis dan flavonoid yang juga dapat menginhibisi akumulasi sel mast (Rajoo et al., 2014). CAPE dapat dengan mudah masuk ke dalam sel dan menginhibisi pelepasan sitokin inflamasi dan meningkatkan produksi sitokin antiinflamasi secara simultan seperti IL-10 dan IL-4. Stimulan IL-10 memiliki fungsi sebagai antiinflamasi yang dapat menurunkan regulasi produksi IL-5 oleh sel T, sedangkan IL-4 diketahui dapat menekan aktivitas sitotoksis makrofag, membunuh parasit, dan produksi nitric oxide yag diturunkan dari makrofag (Kiyota et al., 2010). Selain itu CAPE juga dapat mengurangi infiltrasi sel inflamasi neutrofil dan monosit (Rajoo et al., 2014).

Aktivitas antiinflamasi pada propolis telah dibuktikan oleh beberapa penelitian pada tikus percobaan, dimana efek ekstrak ethanol propolis sebagai anti peradangan pada kaki tikus menunjukkan efek yang signifikan dan mampu menghambat inflamasi, baik berupa inflamasi kronis maupun akut, yang mana dapat menghambat kerja mieloperoxidase, NADPH-oxidase ornithine decarboxilase, tirosine-proteinkinase, dan hyaluronidase. Selain itu, adanya flavonoid dan senyawa turunan asam sinamat pada propolis, termasuk acacetin, quercetin, naringenin, caffeic acid phenyl ester (CAPE), dan caffeic acid (CA) mampu menginhibisi silika yang menginduksi reactive oxygen species (ROS) dan menilitin sehingga dapat menginduksi pelepasan asam arakidonat, produksi PGE2, dan pelepasan histamin (Djajasaputra, 2010).

Beberapa penelitian lainnya, baik secara in vitro maupun in vivo berhasil membuktikan peran CAPE sebagai modulator dari asam arakidonat kaskade dan sebagai penghambat aktivitas cyclooxygenase-2 di dalam sel epitel mulut manusia dengan menekan peradangan akut pada inflamasi. Penelitian yang dilakukan oleh Iswanto et al. (2016), berhasil dibuktikan bahwa aplikasi topikal propolis 10% secara klinis dapat mempercepat penyembuhan luka dan inflamasi pasca pencabutan gigi. Selain itu, penelitian juga berhasil membuktikan bahwa CAPE dapat mempercepat penyembuhan luka pada kulit (Refa dan Ayu, 2013; Sarsono et al., 2012).

Kontributor : Nastasya Putrinda Editha

 

DAFTAR PUSTAKA

Ardo, S. 2005. Respons Inflamasi pada Pulpa Gigi Tikus Setelah Aplikasi Ekstrak Etanol Propolis (EEP). Dental Journal 38 (2): 77 – 83.

Bankova, V. 2009. Chemical Diversity of Propolis Makes It a Valuable Source of New Biologically Active Compounds. Journal of ApiProduct and ApiMedical Science 1 (2): 23 – 28.

Bankova, V. S., de Castro, S. L., dan Marucci, M. C. 2000. Propolis: Recent Advances in Chemistry and Plant Origin. Apidologie 31: 3 – 15.

Bogdanov, S. 2017. Propolis: Composition, Health, Medicine: A Review. Bee Product Science: 1 – 44.

BPOM RI. 2006. Uji Pendahuluan Aktivitas Antikanker dari Propolis dan Komponen Aktifnya. Info POM, Jakarta.

Djajasaputra, M. R. S. 2010. Potensi Budidaya Lebah Trigona dan Pemanfaatan Propolis Sebagai Antibiotik Alami Untuk Sapi PO. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Free, J. B. 1982. Bees and Mankind. George Allen and Unwin, London

Iswanto, H., Kuswandari, S., dan Mahendra, P. K. W. 2016. Pengaruh Aplikasi Topikal Propolis 10% Terhadap Penyembuhan Luka Pasca Pencabutan Gigi Desidui Persistensi (Kajian Pada Anak Usia 6-10 Tahun). Jurnal Kedokteran Gigi 7 (2): 80 – 85.

Kiyota, T., Okuyama, S., Swan, R. J., Jacobsen, M. T., Gendelman, H. E., dan Ikezu, T. 2010. CNS Expression of Anti-Inflammatory Cytokine Interleukin-4 Attenuates Alzheimer’s Disease-Like Pathogenesis In APP+PS1 Bigenic Mice. The FASEB Journal 24 (8): 3093 – 3102.

Mahmoud, L. 2006. Biological Activity of Bee Propolis in Health and Disease. Asian Pasific Journal of Cancer Prevention 7 (1): 22 – 31.

Perum Perhutani. 1986. Pembudidayaan Lebah Madu Untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat. Prosiding Lokakarya. Sukabumi, 20-22 Mei 1986. Perum Perhutani, Jakarta.

Putri, M. D. 2014. Caffeic Acid Phenethyl Ester (CAPE) Propolis dan Matrix Metalloproteinase 8 (MMP-8) dalam Proses Inflamasi. Skripsi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, Makassar.

Rajoo, M., Parolia, A., Pau, A., Amalraj, F. D. 2014. The Role of Propolis in Inflammation and Orofacia Pain: A Review. Annual Research & Review in Biology 4 (4): 651 – 664.

Ramos, A. F. N. dan Miranda, J. L. 2007. Propolis: A Review of Its Antiinflammatory and Healing Actions. Journal of Venomous Animals and Toxins Including Tropical Diseases 13 (4): 697 – 710.

Refa, S. dan Ayu, T. 2013. Caffeic Acid Phenethyl Ester Menurunkan Ekspresi Endoglin Pada Kultur HUVECs yang Dipapar Glukosa Tinggi. Jurnal Kedokteran Brawijaya 27 (4): 196 – 200.

Sabir, A. 2005. Aktivitas Antibakteri Flavonoid Propolis Trigona sp Terhadap Streptococcus mutans (In Vitro). Dental Journal 38 (3): 135 – 141.

Sarsono, Syarifah, I., Martini, dan Diding, H. 2012. Identifikasi Caffeic Acid Phenethyl Ester dalam Ekstrak Etanol Propois Isolat Gunung Lawu. Jurnal Bahan Alam Indonesia 8 (2).

Singh, S. 1962. Beekeeping in India. Indian Council of Agricultural Research, New Delhi.

Siregar, H. C. H., Fuah, A. M., dan Octavianty, Y. 2011. Propolis Madu Multikhasiat. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suranto, A. 2010. Dahsyatnya Propolis Untuk Menggempur Penyakit. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Woo, K. S. 2004. Use of Bee Venom and Propolis for Apitherapy in Korea. In: Proceeding of the 7th Asian Apicultural Association and 10th BEENET Symposium and Technofora; Los Banos, 23-27 Februari 2004. University of Philippines, Los Banos, 311-315.

PROPOLIS : Keunggulan, Khasiat Dan Komposisi

PROPOLIS : Keunggulan, Khasiat Dan Komposisi

Apa Itu Propolis ???

Propolis adalah zat resin yang mengandung mineral, senyawa kimia organik serta antibiotik yang berasal dari tunas, bunga, dan kulit pepohonan. Zat tersebut diolah secara biologis oleh lebah dan digunakan untuk menutup celah, memperkecil pintu masuk dan berfungsi sebagai salah satu sistem pertahanan lebah. Keragaman sifat fisika/kimia propolis dipengaruhi oleh jenis lebah, vegetasi dan kondisi geografis habitat lebah. Indonesia sebagai salah satu negara dengan biodiversitas yang melimpah memiliki potensi yang sangat tinggi dalam pengembangan bioproduk yang berkualitas termasuk propolis.

Komposisi Propolis

Komposisi propolis bervariasi tergantung asal getah tumbuhan (Gojmerac, 1983). Propolis dengan sejumlah senyawa didalamnya menunjukkan bermacam-macam efek biologis dan aktivitas farmakologis.  Lebih dari 180 senyawa yang terkandung di dalam propolis sudah diketahui (Kasahara, Matsuka dan Nakamura, 2005).

Unsur aktif yang penting dalam farmakologi dan aktivitas biologis adalah flavonoid (flavon, flavonol, flavonon) dan senyawa fenolat serta. Pada propolis lebah liar Trigona spp., ditemukan lebih dari 200 senyawa (Mahani, 2011). Sekurang-kurangnya lebih dari 38 jenis flavonoid telah ditemukan termasuk diantaranya flavonol (galangin, kaemferol, quersetin), flavonon (pinocembrin, pinosrobin), flavononol (pinobanksin), serta flavon (chrysin, acacetin, apigenin, ermanin).

Beberapa senyawa fenolat yang terkandung dalam propolis antara lain hidroksisinamat, asam sinamat, vanilin, benzil alkohol, asam benzoat, kafeat, kumarat, serta asam ferulat (Khismatullina, 2005; Matienzo dan Lamoreno, 2004)

Berikut adalah tabel komposisi propolis berdasarkan Krell (1996).

Kelas Komponen

Jumlah

Grup Komponen

Resin

45-55%

Flavonoid, asam fenolat dan ester

Lilin dan asam lemak

25-35%

Sebagian besar dari lilin lebah dan beberapa dari tanaman

Minyak essensial

10%

Senyawa volatile

Protein

5%

Protein kemungkinan berasal dari pollen dan amino bebas

Senyawa organik lain dan mineral

5%

14 macam mineral, yang paling terkenal adalah Fe dan Zn. Sisanya seperti Au, Ag, Cs, Hg, La dan Sb.

Senyawa organik lain seperti keton, asam benzoat dan esternya, gula, serta vitamin (B3).

Keistimewaan dan Khasiat Propolis

Hampir tidak mungkin menemukan ratusan senyawa aktif terkandung sekaligus dalam suatu bahan di alam. Tetapi berbagai riset membuktikan bahwa di dalam propolis terkandung ratusan senyawa aktif yang memiliki khasiat pengobatan.  Jika setiap senyawa aktif memiliki satu khasiat, maka secara sederhana propolis yang mengandung 100 senyawa aktif akan memiliki 100 khasiat. Keistimewaan propolis ini hingga kini tidak dimiliki oleh bahan lain.

Khismatullina (2005) menyatakan bahwa propolis menunjukkan aktivitas antimikrobial, antifungal, antivirus dan antoprotozoa.  Senyawa flavonoid propolis juga bertindak sebagai antioksidan yang mampu mengatasi senyawa radikal bebas sehingga sangat baik sebagai antikanker. Dengan aktivitas biologis yang begitu lengkap maka penyakit yang dapat diatasi oleh propolis begitu luas, baik penyakit yang tergolong infeksi (batuk, radang tenggorokan, TBC dll) maupun penyakit degeneratif seperti atherosklerosis, diabetus mellitus, mioma, tumor, kanker, jantung koroner, stroke dll.

Referensi:

  • Gojmerac WL.  1983.  Bee, Beekeeping, Honey and Pollination. Westport: Avi.
  • Kasahara R, M. Matsuka and J. Nakamura. 2005.  Physiochemical Diversity and Plant Origins of Japanese Propolis.  Dalam Bees for New Asia.  Proceedings of The 7th Asian Apicultural Association Conference and 10th Beenet Symposium and Technofora.  Laguna, Phillipines.
  • Khismatullina, N. 2005.  Apitherapy.  Rusia: Mobile Ltd.
  • Krell, R. 1996. Value-Added Products From Bee keeping; FAO Agricultural Services Bulltein No. 124. Food and Agriculture Organization of the United Nations Rome 1996. www.fao.org/docrep.htm.
  • Mahani, RA. Karim, N. Nurjanah. 2011.  Keajaiban Propolis Trigona. Pustaka Bunda, Jakarta.
  • Matienzo AC., Lamorena M.  2004.  Extraction and Initial Characterization of propolis from Stingles Bees (Trigona biroi Friese).  Di dalam: Proceedings of The 7th Asian Apicultural Association Conference and 10th Beenet Symposium and Technofora. Los Banos, 23-27 Februari 2004.  University of The Phillipines.  Hlm 321-329.
  • Wade, C. 2005. Can Bee Propolis Rejuvenate The Immune System? www.thenaturalshopper.com/ buy-beesupplements/article.html.
Macam-Macam Rasa, Warna & Aroma Madu

Macam-Macam Rasa, Warna & Aroma Madu

Madu adalah salah satu hasil alam yang sudah dikenal dan digunakan sejak zaman dahulu kala. Beragam penggunaan madu mulai dari konsumsi secara langsung, dicampur dengan makanan lain, maupun untuk keperluan perawatan wajah sudah sering dilakukan oleh masyarakat. Namun sebenarnya apa itu madu dan kenapa banyak ragam madu di pasaran?

Madu adalah produk utama yang dihasilkan lebah berupa zat manis yang bersumber dari nektar bunga dari lingkungan tempat hidup lebah.

Madu sejatinya adalah gula alami, karena komposisi madu hampir 95% terdiri dari gula dan air, sedangkan 5% nya berupa vitamin, mineral, enzim, asam amino, dan senyawa organik.

Kandungan madu sangat dipengaruhi oleh vegetasi tanaman dan kondisi geografis habitat lebah. Terdapat lebih dari 600 senyawa kimia dalam madu yang tergolong kedalam hidrokarbon, aldehid, alkohol, keton, asam, ester, senyawa benzen dan turunannya, norisoprenoid, senyawa terpen dan turunannya, sulfur, dan senyawa siklik. Unsur senyawa kimia volatile dari setiap nektar tanaman yang berbeda menimbulkan aroma madu yang berbeda pula.

Sementara itu, dari sisi warna, warna madu bervariasi dari terang hingga gelap. Warna madu juga dipengaruhi oleh sumber nektar tanaman, proses pengolahan, serta suhu dan lama penyimpanan.

Pada umumnya rasa dasar madu adalah manis, namun terdapat beberapa variasi rasa mulai dari rasa asam, pahit, gurih, rasa beberapa jenis bunga, bahkan rasa sedikit tengik. Hal tersebut sangat terjadi karena dipengaruhi oleh vegetasi tanaman dan kondisi geografis habitat lebah. Selain itu, kekentalan madu dipengaruhi oleh kadar air nektar tanaman serta jenis lebah. Sebagai contoh madu lebah trigona lebih encer dibandingkan madu lebah apis.

Berdasarkan hal tersebut dipasaran kita dapat menemukan berbagai madu dengan karakteristik yang berbeda-beda. Mari konsumsi madu dan lestarikan bumi kita.

Riset Tentang Propolis Lebah Trigona

Riset Tentang Propolis Lebah Trigona

Dr. Mahani SP., M.Si. adalah seorang akademisi dan praktisi Madu serta Propolis Indonesia. Berikut adalah beberapa hasil penelitian beliau terkait propolis dan lebah trigona yang telah dipublikasikan :

“Bee Propolis Trlgona spp Potential and uniqueness In Indonesia”

“Biological Activities, Phytochemical Composition and Plant Origin of Indonesian Native Stlngles Bee (Trigona sp) Propolis from Different Provinces In Indonesia”

“Determination Indonesian Native Trigona Bee Propolis As Complementary Nutraceutical Of Anti Tuberculosis Drug”

“Trigona spp Local Bee Propolis Potential to Accelerate The Recovery of The Nutritional Status of Patients with Pulmonary Tb”

“Antlhyperglycemlc Effect of Propolis Extract from Two Different Provinces In Indonesia”

“The Effect of Solvent Type to Yield and Antioxidant Activity of Trigona spp Propolis Extract”

Mari Konsumsi Madu Trigona

Mari Konsumsi Madu Trigona

Stingless bee atau yang lebih dikenal dengan nama lebah Trigona, Kelulut (Sumatera), Teweul (Sunda), Klanceng/Lanceng (Jawa) merupakan jenis lebah tanpa sengat / sengat lemah. Secara fisik, lebah trigona memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari pada lebah avis dan hampir seluruh tubunya berwarna hitam. Selain itu, sistem sarang lebah trigona berbentuk gumpalan tidak teratur dan berbeda dengan lebah pada umumnya yang membentuk pola segienam.

Lebah trigona menghasilkan berbagai produk dengan potensi dan khasiat yang luar biasa, seperti madu, propolis, dan bee polen trigona. Berbicara khusus terkait madu trigona, secara umum madu yang dihasilkan oleh lebah dipengaruhi oleh kondisi alam tempat hidup lebah. Madu yang dihasilkan dari suatu daerah akan memiliki cita rasa, aroma dan kandungan senyawa bioaktif yang berbeda dengan madu dari daerah lainnya. Oleh karena itu dipasaran kita dapat menemukan madu trigona dengan rasa asam, manis, dan pahit.

Dengan segala keunikan yang dimilikinya, hingga kini semakin banyak para peneliti baik dari dalam maupun mancanegara yang berminat mengkaji lebih dalam terkait lebah trigona.