Propolis Trigona Mengatasi Kanker

Propolis Trigona Mengatasi Kanker

Propolis adalah resin yang dikumpulkan oleh lebah dari berbagai tumbuhan, yang bercampur dengan saliva dan berbagai enzim sehingga menghasilkan resin baru yang berbeda. Propolis mempunyai aktivitas antibakteri, antikapang, antivirus dan aktivitas biologis lain seperti antiinflamasi, anestesi lokal, hepatoprotektor, antitumor, dan imunostimulan (Bankova, 2007; Fearnley, 2005; Lotfy, 2006). Daya antimikroba propolis telah dipergunakan oleh bangsa Yunani dan Romawi sejak berabad-abad yang lalu. Sifat unik propolis menarik perhatian para peneliti sejak akhir tahun 1960-an. Selama 40 tahun terakhir, telah dipublikasikan mengenai komposisi kimia, aktivitas biologis, farmakologis propolis dan terapi penggunaannya (Khismatullina, 2005). Bahan aktif dalam propolis, seperti senyawa flavonoid dan capeic acid phenethyl ester, telah banyak dimanfaatkan untuk kesehatan terutama sebagai bahan antikanker. Saccharomyces cerevisiae merupakan sel eukariot yang dapat dijadikan model pengujian aktivitas antikanker suatu bahan (de Castro et al., 2011).

Propolis diperoleh dengan cara mengekstrak sarang lebah, jenis lebah yang bersarang di lubang bambu dan dicelah celah rumah adalah Trigona sp. Lebah madu ini menghasilkan jumlah propolis lebih banyak. Propolis disinyalir dapat dimanfaatkan sebagai antikanker.  Hasil uji awal propolis Trigona spp sebagai antikanker telah dilakukan terhadap sel Murine leukemia P-388 dengan nilai IC50 18,1 μg.mL-1. Hasil ini menunjukkan bahwa propolis Trigona sp. mempunyai potensi untuk digunakan sebagai bahan antikanker. Peran propolis di dalam terapi keganasan terkait dengan kemampuannya dalam aktivitas antiproliferasi dan menginduksi apoptosis. Pada berbagai penelitian in vitro propolis menunjukkan aktivitas anti kanker pada berbagai jenis sel kanker, meliputi : kanker laring, kanker paru, kanker pankreas, kanker thyroid, kanker kolorektal, kanker payudara, kanker prostat dan glioma. Mekanisme apoptosis terjadi melalui dua jalur utama, jalur ekstrinsik dan intrinsik. Apoptosis jalur intrinsik diregulasi oleh sekelompok protein. Protein Bcl2 adalah protein yang bersifat anti apoptosis, bekerja dalam mitokondria, berperan pada fase inisiasi apoptosis jalur intrinsik. Penurunan aktivitas Bcl2 akan menyebabkan peningkatan apoptosis dan sebaliknya. Apoptosis merupakan mekanisme untuk mengontrol proliferasi sel.

Proses ekstraksi propolis secara umum dilakukan dengan teknik maserasi menggunakan pelarut organik. Penelitian yang dilakukan oleh Park dan Ikegaki (1998) diperoleh bahwa etanol 70% mampu mengekstrak sebagian besar flavonoid jenis pinokembrin dan sakuranetin. Penggunaan etanol 70% lebih baik dibandingkan dengan etanol absolut (95%) karena perolehan ekstrak flavonoid lebih banyak. Ekstraksi propolis dengan etanol 70% menghasilkan propolis dengan aktivitas antioksidan terbaik (Park dan Ikegaki, 1998).  Proses ekstraksi propolis menggunakan pelarut etanol 70% dan pemanasan gelombang mikro selama 30 menit merupakan cara yang sangat cepat dalam menghasilkan asam fenolat dan flavonoid. Flavonoid merupakan senyawa fenol yang terdapat dalam propolis dan kadarnya berhubungan dengan warna sarang lebah. Propolis yang berwarna lebih gelap mengandung flavonoid lebih banyak, sehingga hasilnya yang lebih banyak dibandingkan dengan propolis berwarna lebih muda (Woo, 2004). Flavonoid ini merupakan bahan aktif pada propolis. Warna merupakan penanda tinggi rendahnya kandungan bahan aktif suatu objek (Suparno et al., 2007) atau kandungan bahan kimia suatu bahan (Suparno et al., 2009). Propolis yang dihasilkan dari ekstraksi memiliki warna coklat sampai coklat kehitaman. Propolis ini larut sempurna pada propilen glikol dan etanol 70% tapi tidak larut dalam air. Total kadar flavonoid yang terkandung dalam propolis hasil ekstraksi adalah sebesar 12,67%. Selain mengandung flavonoid propolis juga mengandung senyawa asam organic yang bersifat antioksidan yang dapat mereduksi radikal bebas, zat aktif tersebut diantaranya asam firulat (29,795%), techtochrysin (14,153%), pinokembrin (7,726%), asam kumarat (2,330%), galangin (1,765%), pinobanskin (0,982%), asam salisilat (0,539%), kuersetin (0,373%), fisetin (0,188%), protocathechic acid (0,118%), chrysin (0,080%), asam kafeat (0,0620 %) dan epigenin (0,018%).  Keberadaaan antioksidan adalah hal penting untuk formulasi obat. Aktivitas antioksidan ini dipengaruhi oleh keberedaan flavonoid dalam propolis, semakin kecil nilai IC50 semakin besar kemampuannya sebagai bahan antioksidan. Nilai IC50 antioksidan propolis adalah 75,677 μg.mL-1. Besar kecilnya nilai IC50 disebabkan oleh asal propolis dan waktu pengambilan sarang lebah.

Pengujian kemampuan propolis dalam menghambat pertumbuhan sel eukariot atau induksi apoptosis dilakukan menggunakan sel model S. cerevisiae. Pola induksi terhadap S. cerevisiae adalah dengan menghambat pembentukan enzim pembawa gen Pdr5p (Lotti et al., 2011). Pada konsentrasi 50 μg.mL-1 kemampuan menginduksi apoptosis sel S. cerevisiae sebesar 70,323% atau IC50 sebesar 6,015 μg.mL-1. Hasil menunjukkan lebih besar dibandingkan dengan Lotti (2011) dari contoh yang diujikan terdapat propolis asal Brazil yang mempunyai IC50 sekitar 50-100 μg.mL-1. Hal ini menunjukkan bahwa propolis asal Pandeglang cukup potensial sebagai bahan untuk antikanker.

IMG_1642

Pengujian aktivitas propolis dalam mematikan sel kanker payudara secara in-vitro dilakukan terhadap sel kanker MCF ( Michigan Cancer Foundation)-7 menghasilkan nilai IC50 sebesar 233 μg.mL-1. Hasil penelitian Syamsuddin et al. (2011) menemukan bahwa nilai IC50 ekstrak etilasetat propolis asal Grinsing, Jawa Tengah lebih aktif dibandingkan dengan ekstrak butanol yaitu 200 μg.mL-1 dibanding dengan 47.45 μg.mL-1. Makin kecil nilai IC50 makin aktif propolis sebagai agen antiproliferasi sel kanker. Pengujian aktivitas propolis dalam menyembuhkan kanker terlihat bahwa pada konsentrasi propolis 233 ug.mL-1 dapat menyembuhkan jaringan rusak akibat tumor. Proses penyembuhan ditandai dengan adanya perbaikan sel dan jaringan di sekitar jaringan yang rusak dengan terjadinya reeptilasi, folikel rambut dan penghambatan proses angiogenesis. penyembuhan luka akibat tumor dapat terjadi karena pemberian propolis. Sedangkan menurut Sun et al. (2012) bahwa komponen krisin yang ada dalam propolis dapat mengecilkan volume tumor yang terjadi pada jaringan mamae mencit yang diinduksi dengan DMBA. Adanya senyawa asam organik, polifenol dan flavonoid dalam propolis berperan menghambat proliferasi sel kanker.. Hal ini karena flavonoid maupun asam kafeat mampu menghambat protein kinase yang digunakan untuk proliferasi sel sehingga terjadi penghambatan proses pembentukan sel yang berakibat terjadinya apoptosis (Madeo et al., 2004). Selain flavonoid propolis juga mengandung senyawa artepilin C dan fenetil kafeat (CAPE) yang juga berfungsi sebagai antikanker.

Propolis memiliki nilai LC50 adalah konsentrasi yang menyebabkan kematian sel kanker sebesar 50%. Unsur-unsur dalam propolis yang menghambat pertumbuhan dan menghancurkan sel-sel kanker adalah quercetin (antioksidan alami), asam caffeic, dan clerodane diterpendoid. Clerodane diterpendoid merupakan zat yang mampu menghambat tumbuhnya sel tumor, sedang asam caffeic berguna mempromosikan kematian sel kanker payudara, melanoma, kolon, dan kanker ginjal. Agar efek penghambatan propolis lebih efektif sebaiknya propolis dibuat dalam bentuk nanopartikel. Hal ini disebabkan oleh karena ukuran partikel propolis yang sangat kecil sehingga bahan aktif yang masih ada dalam nanopropolis dapat masuk kedalam jaringan dengan mudah. Propolis merupakan salah satu obat alternatif yang dapat digunakan sebagai obat kanker karena semakin banyak korban penyakit ganas ini setiap tahunnya.

 

Kontributor : Amel Daniela

REFERENSI

Bankova V. 2007. Propolis of Stingless Bee: A Promising Source of Biologically Active Compounds. Pharmacog Rev. 1: 88-92.

de Castro PA, Savoldi M, Bonattio D, Barros MH, Goldman MHS, Berretta AA, Goldman GH. 2011. Molecular Characterization of Propolis Induced Cell Death in Saccharo-myces cerevisiae. Eucariotic Cell. 10 (3):398-411.

Fearnley J. 2005. Bee Propolis: Natural Healing from the Hive. London: Souvenir Press Ltd.

Khismatullina N. 2005. Apitherapy : Guidelines for more effective use. Rusia: Mobile Ltd.

Lotfy M. 2006. Biological Activity of Bee Propolis in Health and Disease. Asian Pac J Cancer Prev. 7:22-31.

Lotti C, de Castro GMM, de Sá LFR, da Silva BAFS, Tessis AC, Piccinelli AL , Rastrelli L, Pereira AF. 2011. Inhibiton of Saccharomyces cerevisiae Pdr5p by a natural com-pound extracted from Brazillian Red Propolis. J Pharma Braz. 21(5): 901-908.

Madeo F, Herker E, Wissing S, Jungwirth H, Eisenber T, Frohlich KU. 2004. Apoptosis in yeast. DOI 10.1016/j.mib.2004.10.012. Current Opinion Microbiol. 7:655–660.

Park YK dan Ikegaki M. 1998. Preparation of Water and Ethanolic of Propolis and Evaluation of the Preparations. Biosci Biotech Biochem. 62 (11): 2230-2232.

Suparno O, Covington AD, dan Evans CS. 2007. Application of diphenols for dyeing. J Soc Leather Technol Chem. 93:139-141.

Suparno O, Kartika IA, dan Muslich. 2009. Chamois leather tanning using rubber seed oil. J Soc Leather Technol Chem. 93:158-161.

 

Woo KS. 2004. Use of bee venom and propolis for apitherapy in Korea. Di dalam: Camaya EN, Cervancia C. (eds.). Proceeding of the 7th Asian Apicultural Association Conference and 10th BEENET Symposium and Technofora; Los Banos, Univ. of the Philippines. 23-27 Feb 2004. Laguna: UPLB-BP, College, Laguna (Philippines). hlm 311-315.